Home » Lainnya » Sosial » Wirausaha untuk Perubahan Sosial

Wirausaha untuk Perubahan Sosial

Wirausaha, untuk, Perubahan, Sosial

“SUPAYA bisa terbang, Anda harus punya sayap. Bagi orang-orang miskin, modal yang murah adalah sayap. Kalau mereka tidak punya sayap itu, mereka tidak akan bisa keluar dari kemiskinan.” (Mohammad Yunus, pendiri Grameen Bank)

Kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) diyakini banyak kalangan sebagai salah satu solusi terhadap masalah sosial dan ekonomi. Banyak harapan disandarkan terhadap para pembaharu sosial tersebut.

Karena itu, memasuki 2010, Ashoka Indonesia kembali memberikan penghargaan kepada 10 wirausahawan sosial di Indonesia untuk tahun terpilih 2009. Pada penganugerahan tersebut, Ashoka bekerja sama dengan BINUS Entrepreneurship Center (BEC), KADIN Indonesia, dan Asosiasi Kewirausahaan Sosial di Indonesia (AKSI). Penganugerahan award itu menunjukkan bahwa para wirausahawan sosial yang terpilih tersebut layak dianggap meraih kesuksesan.

Harus diakui bisa jadi masih banyak wirausahawan lain di seluruh penjuru negeri ini yang belum mendapatkan penghargaan. Namun, mereka masih tetap bekerja dan mengabdikan tenaga dan pikirannya bagi masyarakat.  “Fellow-fellow yang terpilih belumlah merata di seluruh Indonesia. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan di luar sana masih banyak para wirausahawan yang belum terseleksi oleh kami,” ujar Direktur Ashoka Indonesia Mira Kusumarini.

Berdasarkan data Ashoka Indonesia, mayoritas (70%) peraih penghargaan wirausahawan sosial masih berdomisili di wilayah Jawa dan sekitarnya. Kemudian di wilayah kerja Sumatera dan sekitarnya masih dalam hitungan belasan orang. Untuk wilayah kerja Kalimantan, Sulawesi, dan sekitarnya hanya sembilan orang fellow. Wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan sekitarnya hanya sejumlah 22 orang fellow. Terakhir untuk wilayah Papua, Maluku, dan sekitarnya hanya tercatat tiga orang yang meraih award kewirausahaan sosial dari Ashoka.

Harus diakui, semakin penyebarannya merata, ide tentang perubahan sosial yang dipelopori para wirausahawan sosial tersebut akan semakin optimal. Sepuluh wirausahawan sosial yang terpilih pada 2009 datang dari beragam bidang kerja. Mulai kesehatan, jurnalistik, hingga pendidikan di antaranya Lexy Rambadetta, jurnalis yang mengembangkan jurnalisme dokumenter untuk penegakan HAM. Lexy yang memiliki wilayah kerja di Jakarta berusaha menyebarkan ide tentang jurnalistik yang independen sekaligus memulai pembuatan arsip sosial dalam bentuk visual di Indonesia.

Sedikit berbeda dengan Muchlis Usman yang mengembangkan TV komunitas dengan melibatkan partisipasi masyarakat sipil. Melalui Kendari TV, Muchlis bersama timnya berusaha memenuhi kebutuhan publik masyarakat Kendari akan informasi yang berkualitas dan keterikatan dengan pemerintah lokal di Indonesia. Di Indonesia belum banyak TV lokal atau bahkan TV komunitas yang mampu bertahan di tengah perkembangan industri pertelevisian saat ini. Dari Bali ada Luh Putu Upadisari yang berusaha memberikan layanan kesehatan reproduksi di pasar tradisional.

Sari–– panggilan akrabnya––menciptakan tempat dan waktu bagi pedagang perempuan yang biasanya terpinggirkan di pasar tradisional. Mereka dapat mengakses layanan kesehatan seksual dan reproduktif melalui organisasinya, Yayasan Rama Sesana. Kemudian Syafi’i Anwar yang concern mengembangkan pendidikan pluralisme di pesantren melalui pembelajaran berbasis internet. Dengan wilayah kerja: Banten dan Jawa Barat. Syafi’i mereformasi sistem sekolah Islam Indonesia dengan memperkaya kurikulum pesantren yakni menambahkan pengembangan keterampilan praktis dan pelatihan di samping pendidikan agama.

Peduli Lingkungan Hidup

Gerakan sosial yang memadukan antara kesehatan dan lingkungan juga dikembangkan Toto Sugito. Melalui komunitas Bike to Work (B2W), Toto bersama kawan-kawannya membangun kesadaran mengenai keuntungan ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang didapatkan dari bersepeda bagi para penghuni kota di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Valentinus Heri di Kalimantan Barat juga concern terhadap isu lingkungan hidup. Di tengah hutan gambut Kalimantan Barat, yang penting di mata dunia, tempat para penghuni asli mulai beralih ke pembalakan kayu secara tak berkelanjutan untuk mendapatkan penghasilan, Heri memfasilitasi usaha madu hutan yang menggiurkan untuk meningkatkan ekonomi lokal sambil melindungi hutan.

Kemudian Anna Alisjahbana yang berhasil mengembangkan integrasi sistem monitoring tumbuh kembang anak ke dalam program posyandu secara nasional. Anna memperkenalkan pendekatan holistik dalam tumbuh kembang anak, yang melibatkan praktik deteksi dan penanganan dini sebagai prinsip utama dalam menjamin kualitas hidup seorang anak.

Praktik Keswadayaan

Praktik inisiatif keswadayaan masyarakat dikembangkan oleh Bambang Ismawan. Pendiri dan pemimpin LSM Bina Swadaya ini memulai inisiatif praktik keswadayaan masyarakat di Indonesia 40 tahun lalu melalui organisasi pemberdayaan yang berkelanjutan, Bina Swadaya.

Tujuan Bambang adalah menjawab kebutuhan petani di pedesaan akan pendidikan, informasi, dan akses terhadap barang dan jasa. Dari Yogyakarta ada nama Roem Topatimasang yang concern terhadap pendidikan politik melalui pengembangan pemimpin lokal untuk hak sipil, politik, dan ekonomi rakyat. Selama 30 tahun, Roem mendidik dan memberdayakan komunitas yang termiskinkan dan terisolasi dari satu tempat ke tempat lain di ribuan pulau di Indonesia agar mengerti haknya dan dapat mengambil peran dalam proses pengambilan keputusan yang terpusat.

Di wilayah Kalimantan ada Willie Smits yang concern terhadap isu lingkungan hidup melalui penciptaan hutan hujan tropis untuk penghidupan berkelanjutan dan konservasi orangutan. Bisa dikatakan, Willie adalah salah satu pembela orangutan dan habitat alaminya. Namun, lebih dari itu, dia juga penemu bidang kehutanan yang menciptakan revolusi pada teknik dan kebijakan reboisasi di seluruh dunia.

perubahan sosial, wirausaha, berita perubahan sosial, berita tentang perubahan sosial, berita kewirausahaan, perubahan sosial budaya, objek kewirausahaan, perubahan, gambar perubahan sosial budaya, cerita tentang perubahan sosial

Baca juga:

  1. MENJAWAB TANTANGAN PERUBAHAN IKLIM
  2. Pemerintah Bisa Blokir Jejaring Sosial
  3. Perusahaan Fortune 500 Gandrungi Media Sosial
  4. Surat Foto, Menyederhanakan Jejaring Sosial
  5. PALAPA Siap Lakukan Langkah Nyata Kurangi Dampak Perubahan Iklim di Indonesia
berita.balihita.com / Wirausaha untuk Perubahan Sosial




Share |

Tags: ,

Pebruari 8, 2010
By berita terkini

One Response to “ Wirausaha untuk Perubahan Sosial ”

  1. brainy insurance on Agustus 25, 2010 at 9:45 am

    brainy insurance…

    My blog about brainy insurance…

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
89154 . 909. 37
Chris Lie. TEMPO/Aditia Noviansyah TEMPO Interaktif, Jakarta - Demi menuruti kehendak sang ayah, Lie Hong Ing, setamat SMA di Solo, Christiawan Lie kuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Padahal, "Saya lebih suka jadi pelukis," kata pria kelahiran Solo 36 tahun lalu itu kepada Tempo, Rabu lalu. Lulus kuliah pada 1997 dengan predikat cum laude, Chris Lie--demikian sapaan Christiawan--bekerja pada Nyoman Nuarta, pematung terkenal di Bandung. Ia pun ikut mengerjakan Monumen Garuda Wisnu Kencana, yang menjadi ikon pariwisata Bali dan Indonesia. Tapi rupanya Chris kurang menikmati dunia arsitektur. Lantas, bersama empat rekannya sesama arsitek, Chris mencari kenikmatan lain dengan mendirikan studio komik Bajing Loncat di Kota Kembang. "Siang sebagai arsitek, malam sebagai komikus," ujarnya. Kepuasan batin yang didapat dari menggambar komik membuat Chris memutuskan keluar dari profesi arsitek walau pendapatan sebagai arsitek lebih besar ketimbang komikus. "Banyak ruginya dibanding untungnya," ujar dia mengenang studionya yang saat itu berhasil menciptakan tujuh komik tapi sedikit menghasilkan uang. Untuk membayar sewa kantor pun mereka tak mampu. Akhirnya personel Bajing Loncat, termasuk Chris, hengkang untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tampaknya ini menjadi titik balik kehidupan sulung dari tiga bersaudara itu. Mengadu nasib ke Jakarta, Chris bekerja freelance di periklanan. Di Ibu Kota, ia memenangi Jakarta International Art Festival pada 2001. Hadiah berupa tiket penerbangan ke Singapura itu mencuatkan niat Chris bekerja di negeri seberang. Untuk biaya hidup, dengan sungkan ia meminta uang kepada orang tuanya, pedagang batik di Pasar Klewer, Solo. Beruntung di sana Chris mendapat hadiah Exhibition Designer dalam Parade Nasional Singapura. Dua tahun bekerja di Singapura, ia memenangi tiga kompetisi gambar dan ilustrasi. Cahaya kehidupannya makin terang saat Chris mendapat beasiswa full bright untuk kuliah di jurusan sequential art (komik) di Savannah College of Art and Design, Amerika Serikat. Di Negeri Abang Sam, ia sempat magang kerja di perusahaan komik Devil's Due Publishing, Chicago. Walau tiap hari kerjaannya cuma memindai gambar serta menstempel dan mengirim surat, Chris tetap tabah. "Yang penting saya bisa lihat gambar bagus-bagus," katanya. Keberuntungan Chris Lie datang juga ketika Devil's Due mendapat proyek GI Joe dari Hasbro, perusahaan raksasa mainan anak-anak di Amerika Serikat. Chris diminta ikut menggambar sosok GI Joe yang lebih muda dan trendi. Ia pun menciptakan sosok GI Joe bertubuh besar tapi dengan bagian kaki mengecil, dan ternyata itulah yang dipilih Hasbro. Sejak itu ia dipercaya menggarap proyek-proyek Devil's Due sembari menyelesaikan kuliahnya di Savannah--karena proyek Devil's Due bisa dikerjakan di mana saja. Rampung kuliah dengan menyabet excelsus laureate-- predikat lulusan terbaik universitas untuk jenjang master--Chris Lie pulang ke Tanah Air. Lalu ia mendirikan Caravan Studio di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dengan mempekerjakan enam komikus dari beberapa daerah, Caravan telah menciptakan puluhan komik. Dari tangannya sendiri tercipta beberapa komik, di antaranya GI Joe, Transformers, dan Dungeons and Dragons Eberron. Karyanya, Return to Labyrinth, diproduksi Tokyopop Los Angeles, kini menduduki peringkat keempat komik terlaris di Amerika setelah Naruto. Bahkan, dari sepuluh besar komik terlaris, Return to Labyrinth satu-satunya komik yang bukan terjemahan dari komik Jepang. "Itu asli karya saya," ujarnya. Kini Chris Lie masih menggarap cerita komik berseri Drafted, yang diproduksi Hasbro. Setiap karya Chris Lie dihargai paling murah US$ 60 per halaman. Jika penggarapannya rumit, harganya bisa naik. Caravan telah mampu mengerjakan pencil, inking, dan colouring. Saat ini 95 persen permintaan yang masuk ke Caravan berasal dari Amerika, sisanya dari dalam negeri. Di Indonesia, menurut Chris Lie, perkembangan komik kurang maju. Kekurangan komik Indonesia, kata dia, terletak pada penulisan cerita. Padahal kekuatan komik ada pada gambar dan penulisan cerita. "Kalau gambar, orang Indonesia jago-jago," ujarnya. Dengan menekuni komik, Chris Lie telah membuktikan bisa hidup layak, tidak seperti dulu ketika di Bandung. Ia pun berharap komikus dapat hidup sejahtera tanpa harus nyambi di luar membuat komik. Ia juga menyarankan komikus pemula tak malu mempublikasikan karyanya. "Tampilkan saja di situs dunia maya," ujarnya. l Akbar Tri Kurniawan Biodata Nama: Christiawan Lie Tempat dan tanggal lahir: Solo, 5 September 1974 Pendidikan: - Arsitektur Institut Teknologi Bandung (S-1, 1997) - Sequential Art, Savannah College of Art and Design, Amerika Serikat (Master, 2005) Pekerjaan: 1. Devil's Due Publishing, Inc, Chicago 2004. 2. Concept designer, illustrator, dan comic artist, freelance, 1999-2007. 3. Direktur Caravan Studio, 2008-sekarang. Karya: 1. Transformers Vs GI Joe, Hasbro. 2. GI Joe Sigma 6, Hasbro. 3. Voltron Covers, Hasbro. 4. Dungeons and Dragon Eberron, Hasbro. 5. Drafted (komik berseri), Hasbro. 6. Return to Labyrinth, Tokyopop. 7. Ninja Tales and Cthulhu Tales, BOOM Studios. 8. GI Joe: Sigma 6 & 25th Anniversary Toys Line/Action Figure's Design and Packaging Illustrations, Hasbro. 9. GI Joe, Arashikage Showdown Graphic Novel, Devil's Due Publishing. 10. Josie and the Pussycats (komik berseri), Archie Comics Publications. Penghargaan 1. Pemenang Street Fighter IV XBOX 360 Game Art Contest 2009 2. Finalist Telkom's Indigo Fellow Creatiivepreneur 2009 3. Finalist International Young Creative Entrepreneur 2008 4. TRAX Magazine, Hot & Freaky People 2007 5. Juara II AXN-Asia Drawing Contest 2002 6. Juara I Singapore Comic and Illustration Competition 2002 7. Juara I AXN-Asia Anime Action Strip Contest 2001 8. Juara I Jakarta International Art Festival 2001 10. Pemenang MTV-Face of the Millennium 2000 Istri: Rennie Setyadharma Orang tua: Lie Hong Ing (Ayah), Tan Hwa Kiem (Ibu)
free hit counter