Home » Gaya Hidup » Seksualitas » Suami Malas Bercinta, Masturbasi Jadi Solusi

Suami Malas Bercinta, Masturbasi Jadi Solusi

Suami, Malas, Bercinta, Masturbasi, Jadi, Solusi

“Saya berumur 50 tahun, sudah tidak haid lagi setahun ini. Saya masih bergairah dan sering ingin berhubungan intim. Sayangnya, hubungan dengan suami tidak baik. Kami tidak berhubungan intim sejak dua tahun terakhir. Kalau saya meminta, suami tidak mau dengan alasan klasik, yaitu capek.

Kemudian saya belajar masturbasi, dan bisa orgasme. Lama-lama saya merasa tidak bergantung pada suami. Saya juga menghadapi godaan dari teman sekerja, terutama kalau lagi ke luar kota, tapi sampai saat ini saya tidak pernah selingkuh.

Saya merasa suami sudah selingkuh karena sekian lama tidak pernah meminta berhubungan seksual. Saya tidak pernah bertanya karena saya anggap percuma, pasti jawabannya tidak jujur. Saya biarkan saja. Namun, dalam hal lain suami masih peduli.

Apakah di usia setengah abad, wajar kalau saya masih sering bergairah? Sekarang saya cepat orgasme kalau masturbasi. Apakah ini normal untuk orang seusia saya?

Saya pernah membaca di rubrik ini, kalau menopause katanya vagina kering. Lalu, mengapa saya tidak kering kalau sudah bergairah? Apakah saya harus berhubungan intim dan tidak hanya masturbasi agar tetap sehat?
W.W.Jakarta

Tanpa risiko
Sebenarnya Anda harus tahu mengapa suami tidak mau lagi berhubungan seksual. Melalui komunikasi yang baik akan dapat diketahui alasannya. Mungkin dia mengalami gangguan fungsi seksual sehingga cenderung menghindar daripada gagal.

Mungkin juga memang terlalu lelah bekerja pada usia yang bertambah, apalagi kalau mengidap penyakit tertentu. Namun, bukan tak mungkin kecurigaan Anda benar, dia selingkuh.

Karena sudah berlangsung lama, Anda beradaptasi dengan tidak berhubungan seksual. Sebagai gantinya, Anda masturbasi. Tidak ada yang salah kalau Anda masih bergairah pada usia menopause. Memang menopause bukan berarti kehilangan gairah seksual.

Kalau tetap sehat, apalagi mendapatkan pengobatan, gairah seksual Anda tetap ada. Anda juga akan bisa berhubungan seksual dengan baik.

Reaksi perlendiran vagina yang Anda alami menunjukkan bahwa reaksi seksual masih baik. Terjadinya reaksi perlendiran vagina menunjukkan bahwa fungsi pembuluh darah pada dinding vagina masih baik.

Ini, antara lain, dipengaruhi oleh hormon estrogen. Boleh jadi penurunan hormon estrogen Anda belum berpengaruh banyak terhadap pembuluh darah di vagina.

Secara fisik, sebenarnya masturbasi sama dengan hubungan seksual. Perbedaannya tidak ada keterlibatan emosional dengan pasangan. Karena itu, banyak orang yang melakukan masturbasi tidak merasakan kepuasan yang sama dengan ketika melakukan hubungan seksual. Meski demikian, bagi sebagain lain, mereka merasakan sama saja karena juga orgasme.

Jadi, selama Anda merasa nyaman dengan masturbasi, silakan saja karena tanpa risiko. Bandingkan kalau Anda berhubungan seks dengan orang lain, sedikit banyak mengandung risiko.

hubungan suami istri, Masturbasi, bercinta, Cerita masturbasi, hubungan seksual suami istri, seksualitas suami istri, malas, gambar suami istri, Suami, video hubungan seksual suami istri

Baca juga:

  1. Efek Terlalu Sering Masturbasi
  2. Duh… Ragu Menikah karena Tak Perawan Lagi
  3. Normalkah Kebiasaan Suami Menonton Porno
  4. Gangguan Ereksi Jangan Dibiarkan
  5. Perih Setelah Hubungan Seksual
berita.balihita.com / Suami Malas Bercinta, Masturbasi Jadi Solusi




Share |

Tags: , , , , , , , ,

Pebruari 28, 2010
By team berita

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
89137 . 877. 36
KASUS kasepekang alias pengucilan dari desa adat adalah sebuah tragedi, dan ini hanya ada di Bali. Masyarakat adat lain di Nusantara tak pernah mengenal hukum model begini. Banyak masyarakat Bali yang tak paham, siapa yang seharusnya mengayomi masalah ini. Mereka menumpahkan kekesalannya kepada Parisada yang disebut-sebut tak berbuat untuk masyarakat sehingga muncul kasus kasepekang. Pada dialog interaktif di Radio Global, beberapa ”vokalis” terus menyalahkan Parisada. Tentu ini salah sasaran, karena kasepekang termasuk kasus adat, bukan kasus agama. Urusan adat ada yang menanganinya, yakni Majelis Desa Pakraman, sebuah lembaga yang ada kepengurusannya dari tingkat desa (Majelis Desa Pakraman), kecamatan (Majelis Alit Desa Pakraman), kabupaten (Majelis Madya Desa Pakraman) sampai tingkat propinsi (Majelis Utama Desa Pakraman). Syukurlah majelis ini, pada Pesamuan Agung II di Wantilan Pura Samuan Tiga, Gianyar, telah menghasilkan keputusan bahwa sanksi kasepekang tidak boleh diberlakukan lagi. Memang, banyak orang menyebutkan, adat dan agama di Bali menyatu dan sulit dipisahkan. Tetapi yang mengayomi dan membina adat dan agama itu berbeda. Parisada tak bisa mencampuri urusan adat secara formal, karena Parisada mengurusi agama Hindu di Nusantara yang pemeluknya terdiri atas berbagai adat, ada adat Bali, adat Jawa, adat Batak dan sebagainya. Setiap adat punya aturan yang berbeda, namun jika bicara masalah Hindu, ajarannya sama saja. Sebagai orang Bali dan pengurus Parisada Pusat, saya sudah lama risau dengan kasus-kasus adat, apalagi ”hukum kasepekang”. Ini hukum di luar norma hukum masyarakat modern. Di dalam masyarakat modern para terhukum menjalani tahanan. Ada istilah tahanan kota, tahanan rumah, tahanan badan. Tahanan rumah tidak boleh keluar rumah. Tahanan kota, tidak boleh keluar kota tetapi boleh keluar rumah. Tahanan badan dimasukkan ke dalam penjara, dan hidupnya berkutat di sana saja. Kasepekang tidak menyangkut badan, karena tidak ada penahanan. Juga tidak menyangkut rumah karena bisa keluar rumah sebebas-bebasnya. Kasepekang itu adalah yang bersangkutan dikeluarkan dari desa adat, atau bagi desa adat yang lebih lunak, dinonaktifkan dari desa adat sampai ‘’sang terhukum” membayar denda adat. Bagi desa yang tergolong ”keras”, krama desa adat dilarang berbicara kepada orang yang sedang kasepekang. Bahkan yang kasepekang dilarang ke pura untuk bersembahyang. Hukum mana di dunia ini yang melarang orang untuk bertegur sapa? Begitu kejamkah orang Bali? Ternyata tidak. Buktinya, yang terkena ”hukum kasepekang” hanya krama Bali, krama pendatang tidak kena apa-apa. Apalagi kalau pendatang itu bukan orang Hindu, wah… halus sekali penerimaan orang Bali. Mana ada pedagang sate dari Madura yang tinggal di desa adat mengalami kasepekang? Mana ada pedagang pecel lele dari Jawa Timur yang berjualan di desa adat kena kasepekang? Orang Bali itu baik sekali kepada pendatang, trotoar disediakan untuk tempat berjualan para pendatang, padi-padi di sawah diserahkan kepada pendatang untuk memanennya, buruh-buruh bangunan diberikan kepada pendatang. Yang berjualan jagung rebus pun pendatang, orang Bali lebih baik menjadi penganggur. Dan di situlah uniknya, para pendatang tak pernah kena kasus adat, karena mereka dibolehkan untuk tidak menjadi warga adat, sementara orang Bali harus (sekali lagi harus) menjadi warga adat. Orang Bali, kalau tidak ngayah ke banjar adat kena denda. Dalam batas tertentu mendapat sanksi adat lebih keras, dan puncaknya kasepekang. Kalau itu terjadi, berbahaya, jika suatu saat ada keluarganya yang meninggal dunia tak bisa dikuburkan, setidaknya dipersulit. Ada pun para pendatang tidak perlu ngayah, mereka terus bekerja. Kalau keluarga pendatang itu ada yang meninggal dunia, ya… dikubur sebagaimana layaknya. Banyak ada kuburan umum yang bisa dipakai pendatang, sedangkan orang Bali tak punya kuburan umum. Kuburan di Bali milik adat. Ketika krama Bali masih hidup dalam budaya agraris, kekangan adat tak jadi masalah, wong sama-sama petani. Ketika pariwisata masuk dan budaya agraris mulai diganti budaya industri, aturan adat jadi masalah. Bagaimana bisa seorang manajer hotel harus ngayah ke pura membuat klakat, sementara dia harus menggelar rapat setiap saat? Bagaimana bisa eksekutif di bank, atau perusahaan besar, harus pulang ke desa adat untuk ngayah membuat peti mati? Ini salah satu sebab para eksekutif Bali kalah bersaing merebut jabatan menengah ke atas. Padahal ngayah itu bisa diatur jamnya, tak harus bersama-sama. Bukan saatnya lagi kita hanyut dalam kenangan nostalgia namun menghambat profesionalisme. Misalnya, pulang ke desa ngayah membuat tusukan sate dengan meninggalkan pekerjaan penting. Kenapa tidak dikirim saja tusukan sate dan bukankah barang itu bisa dibeli di pasar swalayan? Saatnya majelis desa pakraman membuat peta permasalahan konflik adat, dengan antisipasi zaman globalisasi. Solusi pemecahan konflik juga harus dibuat. Pasti ada jalan keluarnya. Jangan malu mencontoh adat di luar Bali, termasuk adat orang-orang Bali di rantauan. Orang Bali di luar Bali tak pernah punya kasus adat. Membuat kuburan Hindu (bisa dalam bentuk krematorium seperti di Jakarta) bisa jadi salah satu jalan keluar. Jalan keluar lainnya masih banyak, yang penting mau mencontoh adat yang baik dan mau menerima masukan. Ayo adakan rembuk, malu hanya bisa ngomong ajeg Bali, tetapi dalam praktik Bali dibiarkan merana.
free hit counter