PUPUTAN MARGARANA
Tangal 20 Nopember lima puluh empat tahun yang lalu Letkol I Gusti Ngurah Rai bersama 96 orang teman seperjuangannya, para prajurit Bali yang gagah berani, gugur dalam perang habis-habisan (puputan) di desa Marga, melawan tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Semangat dan inspirasi apa yang disampaikan oleh peristiwa bagi kita untuk memasuki tahun 2000?
Pertama, CITA-CITA YANG JELAS.
Cita-cita dari Pak Ngurah Rai dan kawan-kawannya, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembebasan ibu pertiwi dari penjajahan bangsa asing. Ini adalah cita-cita besar, yang melampaui cita-cita pribadi atau golongan.
Bung Karno meminta kita menggantungkan cita-cita setinggi langit. Cita-cita membuat kita bangun lebih pagi, membuat kita tahan lebih lama bekerja di bawah terik matahari, berdesak-desakan dalam bus untuk menemui nasabah atau calon pelanggan, bekerja sampai jauh malam di kantor, jika memang ada pekerjaan yang mendesak harus diselesaikan.
Kalau anak-anak ditanya, “mau jadi apa bila sudah besar?” mereka menjawab, “mau jadi dokter, perawat, pilot, atau pramugari.” Tidak ada yang menjawab ingin jadi pahlawan. Karena pahlawan bukan pekerjaan, tapi pahlawan adalah sebuah panggilan. Bila kita mengerjakan tugas-tugas kita bagaikan suatu panggilan, mengerjakannya dengan sepenuh hati, dengan rasa cinta, maka kitapun telah menjadi pahlawan dalam lingkungan kita.
Setiap zaman sebenarnya menyediakan tantangan dan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan tindakan-tindakan besar, tindakan-tindakan bermakna, yaitu bila kita bekerja tidak hanya bagi diri kita sendiri, tapi juga bagi kebaikan orang lain, orang banyak.
Kedua, SEMANGAT PANTANG MENYERAH.
Ketika Pak Ngurah Rai diajak berunding oleh Overste (Letkol) Ter Meulen, komandan tentara Belanda untuk Sunda Kecil, beliau menjawab tegas “perundingan adalah urusan orang Jakarta, sedangkan tugas kami adalah mengusir penjajah dari pulau ini.”
Bila kita telah memiliki cita-cita yang jelas, tantangan atau godaan apapun tidak akan menggoyahkan kita. Kita tidak akan menyerah dengan mudah. Setelah hampir sebulan berlayar, anak buah Columbus sudah putus asa. Pulau yang diimpikan belum juga kelihatan. Mereka terus mendesak Columbus untuk kembali ke Spanyol. Tapi setiap kali didesak, Columbus menjawab, “ayo kita teruskan sedikit lagi.” Dan seterusnya kita tahu. Columbus dianggap menemukan benua Amerika, sekalipun benua ini sebelumnya sudah ditemukan dan dihuni oleh orang-orang Indian. Yang jelas, inilah hasil sebuah cita-cita besar yang diikuti dengan semangat pantang menyerah.
Jadi jangan mudah menyerah. Bila kita terus bejalan menuju ke arah cita-cita, pada suatu saat kita akan sampai di tujuan. Seringkali hal itu terjadi justru pada saat kita sudah ada di ujung putus asa. Seperti Amerigo Vesvuci melihat daratan, ketika hampir sebagian besar anak buah Columbus sudah putus asa.
Ketiga, KEBERANIAN
Pak Ngurah Rai dan kawan-kawannya pastilah bukan orang-orang pengecut. Kalau dia orang penakut, pastilah dia akan mengakhiri hidupnya sebagai pensiunan pegawai perkebunan kapas milik pemerintah jajahan Jepang. Tapi Pak Rai dan kawan-kawan tidak mau menempuh jalan aman dan penakut. Mereka dengan sadar memilih jalan sulit dan berbahaya. Mereka memilih menempuh jalan yang jarang dilalui. ‘A road less travelled,’ kata penyair Robert Prost. Mereka adalah para pemberani.
Ini yang perlu kita teladani dalam hidup ini. Cita-cita yang cemerlang sering kali gagal karena kita tidak memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Kita takut untuk memulai, kita takut mengambil risiko, kita takut gagal. Semua rasa takut itu melumpuhkan kita.
Goethe pujangga besar Jerman, yang paham filsafat Hindu dan percaya dengan reinkarnasi, mengatakan, “jika anda memiliki keinginan, laksanakanlah. Keberanian memiliki kejeniusannya sendiri.” Jelasnya, kepandaian itu akan timbul bila kita memiliki keberanian.
Keberhasilan hanya buat mereka yang berani. Dunia ini adalah untuk
orang-orang pemberani.
Keempat, PENGORBANAN
Tidak ada yang gratis di bawah matahari. Demikian semboyan orang-orang bisnis. Saya kira semboyan itu benar sekali. Apapun yang kita lakukan perlu pengorbanan. Bahkan kalau kita tidak melakukan apa-apa kita juga mengorbankan sesuatu, yaitu kesempatan. Hidup ini memang menuntut pengorbanan. Dalam bahasa agama kita, kata Yadnya adalah kata yang sangat mulia. Yadnya adalah salah satu inti utama dari agama kita. Tapi seringkali kita menafsirkan kata yadnya dalam arti sempit, yaitu membuat upakara-upakara. Ketika umat Hindu di daerah lain terus berkurang jumlahnya, karena pindah ke agama-agama lain, orang Hindu di Bali terus sibuk dengan berbagai upkara besar kecil, orang-orang mudanya sibuk dengan ogoh-ogoh. Sehingga timbul kesan umat Hindu di Bali lebih banyak memperhatikan butakala dari pada umatnya sendiri.
Dalam pandangan K.M. Munshi, orang Hindu di Bali lebih banyak mengejar ’social ambitions’ dalam praktek keagamaannya, dan karena itu mereka mengabaikan ’social responsibility’ (’Bagawad Gita for Modern Life’).
Mahatma Gandhi mengatakan, “Yadnya adalah sebuah kitab yang indah dan dinamis. Karena itu dengan perkembangan pengetahuan dan pengalaman dan dengan perobahan waktu, arti kata yadnya juga berobah dan berkembang. Yadnya secara harfiah berarti persembahan dan pengorbanan; jadi setiap tindakan pengorbanan atau setiap tindakan pelayanan. Prinsip-prinsip agama adalah satu hal dan praktek-praktek yang didasarkan atas agama adalah hal lain lagi. Prinsip-prinsip (agama) itu adalah mutlak dan tak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Tapi upacara berobah sesuai dengan tempat dan waktu. Dalam pengertian ini setiap zaman memiliki yadnya sendiri yang khas.”
Apa yang dilakukan oleh Sekehe Demen bersama dengan Yayasan Dharma Sarathi, dengan mengunjungi umat Hindu di pedesaan Jawa, mendengar kesulitan-kesulitan mereka, membantu mengadakan sarana pura, walaupun baru dalam ukuran kecil, adalah bentuk yadnya yang sangat dibutuhkan dewasa ini.
Pada kesempatan lain Mahatma mengatakan “yadnya yang sebenarnya, bukanlah menuangkan minyak Ghee ke dalam api, tapi mengorbankan jiwa dan raga demi kepentingan orang banyak.” Inilah yang telah dilakukan oleh Pak Rai dan kawan-kawannya.
SAHAM DAN HAK SUARA KITA
Ketika saya masih SMP dulu di Bali, saya pernah ke Monumen Margarana. Di sana saya membaca nama dua orang dari desa saya yang ikut gugur dalam pertempuran ini. Mereka adalah prajurit kecil, tidak dikenal. Tapi saya bangga sekali membaca nama mereka. Pak Rai dan kawan-kawannya telah mengorbankan jiwa dan raganya demi tanah air, demi kita, dan ini membut kita amat bangga sebagai orang Bali, orang Hindu, dan orang Indonesia. Kita mampu berdiri tegak di tengah-tengah keluarga bangsa ini, bersama dengan saudara-saudara dari daerah lain.
Karena pengorbanan mereka, kita bukanlah penumpang gelap, bukan penumpang gratis (free riders) di dalam kemerdekaan Indonesia. Kita mempunyai saham dalam negara ini. Karena itu kita memiliki hak suara dalam menentukan arah ke mana negara ini hendak dibawa.
Dengan bekal, cita-cita yang jelas, keberanian, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berkorban kita masuki tahun 2000 atau abad 21. Suatu zaman baru yang penuh tantangan. Satu dunia baru yang berani. ‘A brave new world.’
Ada satu sloka Bagawad Gita yang paling sering saya kutip untuk menutup renungan semacam ini, yanti sloka 40 Bab II (Samkhya Yoga), yang berbunyi sebagai berikut :
“Tiada pengorbanan yang sia-sia,
Tiada rintangan yang tak dapat diatasi
Walaupun sedikit dari dharma ini
Akan membebaskan kita dari cengkeraman penderitaan.”
Baca juga:
- WISATA TAMAN PUPUTAN MARGARANA
- Monumen Puputan Badung
- Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana
- YADNYA
- MENGENAL BUDAYA ADAT PERNIKAHAN/PESAKAPAN DI BALI

