Home » Lainnya » pertanian » Panen Jagung 26,5 Ton Per Hektar

Panen Jagung 26,5 Ton Per Hektar

Karawang: Jagung ternyata dapat juga memecahkan rekor Muri. Di Desa Sirnabaya, Kecamatan Teluk Jambe Timur, Karawang, Jawa Barat, Ahad (21/2) panen jagung varietas baru memecahkan rekor untuk kategori jagung termanis, panen terbanyak, pola penanaman terapat, dan makan jagung mentah dengan peserta terbanyak.

Dalam panen raya jagung di lahan seluas 4,5 hektar milik sebuah perusahaan swasta ini, hadir Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurti. Muri memberikan penghargaan karena jagung varietas baru dalam satu hektar mampu menghasilkan 26,5 ton, dengan kepadatan jarak tanam paling rapat sekitar 100 ribu perhektar. Selain itu Muri juga memberikan penghargaan untuk jagung termanis dan dapat langsung dimakan mentah-mentah.

Dalam acara makan jagung mentah bersama, Muri kembali memberikan penghargaan sebagai peserta terbanyak, Muri menilai acara ini merupakan prestasi yang langka di Indonesia. David Andi, panitia penyelenggara acara menuturkan, makan jagung mentah bersama ini dilakukan sebagai kampanye untuk merubah anggapan masyarakat yang selama ini menganggap jagung sebagai sayuran, “padahal jagung termasuk buah-buahan yang langsung bisa dimakan”, kata David.(ARL/AYB)

hasil jagung per hektar, hasil panen jagung per hektar, jagung per hektar, hasil jagung perhektar, hasil panen jagung 25 ton per hektar, hasil jagung per ha, hasil panen jagung, berita panen jagung, panen jagung 26, perkebunan jagung hektar panen

Baca juga:

  1. Lebak Dijadikan Sentra Lumbung Jagung Hibrida
  2. “Mapag Sri”, Syukuran Hasil Panen di Cirebon
  3. Banjir, Petani Panen Lebih Awal
  4. Galungan, Pedagang Janur dan Bunga Panen
  5. Ada Jutaan Ton Es di Bulan
berita.balihita.com / Panen Jagung 26,5 Ton Per Hektar




Share |

Tags: , , , , , , ,

Pebruari 21, 2010
By team berita

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87906 . 125. 33
Pura Agung Besakih, yang terletak di desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem pada ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut, oleh umat Hindu di Indonesia dipandang sebagai pura terbesar dan pusat pemujaan untuk umat Hindu di Indonesia. Dengan latar belakang gunung Agung menjulang, pura Agung Besakih yang menempati lahan dengan kemiringan cukup tajam ditata sangat indah mengikuti irama kemiringan tanah sehingga terasa sangat padu dengan alam sekitarnya. Bentuk tumpang atap Meru yang menyita pandangan mata tampak akrab dengan bentuk cemara yang semakin mengecil di kejauhan lereng gunung Agung. Sapuan kabut tipis semakin memperkuat kedalaman dimensi di kawasan Pura Agung Besakih. Penetapan lokasi pura Agung Besakih, pada masa lalu, tentu bukan suatu kebetulan belaka namun dapat dipastikan didasari atas berbagai pertimbangan dan peramalan yang mampu melihat jauh ke depan. Terbukti, hingga kini pura Agung Besakih seolah senantiasa menebarkan "taksu". Pura Agung Besakih yang menempati kawasan seluas tidak kurang dari 12 km2 memang patut disebut sebagai pura terbesar di Bali, bahkan di Indonesia, karena dalam kawasan tersebut terdapat 18 Pura Pakideh (termasuk pura Pasar Agung di Selat), 4 Pura Catur Lawa, 13 pura Pedharman dan 13 pura Dadya/Paibon. Dalam hal kelengkapan arah pemujaan, Pura Agung Besakih patut disebut sebagai pusat Kahyangan Jagat karena 4 diantara 18 pura Pakideh itu disebut sebagai Pura Catur Lokapala sebagai wujud kekuasaan Tuhan di empat arah penjuru. Pura Penataran Agung dipandang sebagai titik tengah dengan palinggih Padma Tigasebagai sthana Dewa Ciwa. Berbagai upacara di pura Agung Besakih, khususnya di Pura Pakideh didasarkan atas perputaran waktu Sasih, Purnama-Tilem yang disebut Aci dan Usaba. Upacara-upacara ini ditutup dengan upacara Ngusaba Kadasa, lazim disebut dengan Bhatara Turun Kabeh yang dilaksanakan pada Purnama Kadasa. Tuntunan sastra menyuratkan bahwa setiap perputaran 10 kali upacara Bhatara Turun Kabeh (setiap 10 tahun), saat angka satuan tahun Saka mencapai 0, patut diselenggarakan upacara Tawur yang disebut Panca Bali Krama. Disebutkan pula, setiap perputaran 10 kali upacara Panca Bali Krama (setiap 100 tahun), saat angka puluhan dan satuan tahhun Saka mencapai 0 - disebut pula rah windu tenggek windu, patut diselenggarakan upacara Tawur Eka Dasa Rudra. Demikian selanjutnya, setiap 10 kali perputaran Eka Dasa Rudra (setiap 1000), patut diseleggarakan yadnya jagat Marebhu Bhumi. Begitulah perputaran berbagai bentuk upacara yang diselenggarakan di Pura Agung Besakih sebagai wujud pemujaan umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa.
free hit counter