Home » Techno » Terapan » Motif Batik Ponsel Elzio

Motif Batik Ponsel Elzio

Motif,, Batik, Ponsel, Elzio

Ponsel merek Elzio menawarkan motif batik parang pada sisi belakang casing-nya. Selain mendapatkan pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) casing motif batik itu juga didaftarkan ke HAKI atau hak karya intelektual.

Untuk memberikan pilihan lain pada para pembeli, pihak vendor juga menawarkan casing beda, yakni motif kayu (wood) dengan warna coklat tua kehitam-hitaman. “Motif batik ini adalah pertama di Indonesia,” kata Boen Setyawan, distributor tunggal ponsel Elzio di Jateng-DIY, di sela-sela peluncuran produk di Java Resto Solo.

“Elzio memberikan kontribusi pada Yayasan Batik Indonesia dari setiap ponsel yang terjual, ini demi kesinambungan batik sebagai khasanah budaya asli Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan Unesco menjadi warisan dunia,” ungkapnya.

Ada dua tipe ponsel Elzio yang dilempar ke pasaran, yakni tipe I Love You dan I Want You. Masing-masing dijual seharga Rp 1.234.467 dan Rp 678.910.

Dengan keistemewaannya itu, Boen optimistis ponsel tersebut akan laku dipasaran. Apalagi seminggu setelah di lempar di pasaran, telah terjual sekitar 100 buah di Solo. “Sasarannya masyarakat kelas menengah ke bawah,” kata pemilik Artha Buana Celluler Singosaren Solo itu.

Menurut dia, ponsel model qwerty itu setingkat lebih bagus di kelasnya atau dengan harga rata-rata yang sama. Ia mencontohkan, untuk kelas dengan harga Rp 600.000-an, Elzio I Want You dilengkapi fasilitas terkini. Seperti camera 2MP flash, google map, GPRS/EDGE class 12, RMVB (player audio-video lengkap), dan phonebook sebanyak seribu nomor.

“Ponsel sejenis fasilitasnya terbatas dan tidak selengkap ini,” kata dia yang mengaku melayani service dan purna jual.

motif batik, ponsel elzio, motif batik indonesia, elzio, motif-motif batik, motif batik internasional, motif batik parang, harga HP elzio I LOVE U november 2010, CASING HP BATIK, batik indonesia motif

Baca juga:

  1. 20 Ribu Ponsel Batik dan Kayu Siap Edar
  2. Batik Minang Tak Kalah Pamor
  3. 15 Seniman Garap Batik Kulkas LG
  4. Kilau Keindahan Batik Klasik
  5. Batik Kontemporer Rambah Pasar Internasional
berita.balihita.com / Motif Batik Ponsel Elzio




Share |

Tags: , , , , , , , , , ,

Pebruari 28, 2010
By team berita

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87903 . 120. 33
Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis. Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari "Pura-Pura" delapan penjuru angin di Pulau Bali. Sejarah Sangat Sulit untuk mengungkapkan sejarah Pura Lempuyang Luhur yang terletak di Bukit Gamongan Karangasem itu secara jelas, oleh karena data-data yang kuat sukar di dapatkan. Kesulitan lain lagi ialah sampai kini belum dijumpai "Purana" tentang Pura itu yang diharapkan dapat memberikan keterangan secara jelas. Sementara itu baru diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur yang sifatnya tidak langsung, ialah keterangan dalam prasasti Sading C type :Tinulad" dan keterangan yang terdapat dalam lontar Kutarakandha Dewa Purana Bangsul. 1. Prasasti Sading C Naskah turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang isinya menyebutkan sebagai berikut " Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari itu beliau Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin perang. Karena beliau akan pergi ke bali karena disuruh oleh ayahnya yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti." 2. Prasasti Kutarakanda DewaPurana Bangsul Didalam Lontar Kutarakanda DewaPurana Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya kira-kira sebagai berikut " Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang Gnijayaçakti wahai anaknda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah perkataanku kepdada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana" Dari kedua sumber tersebut diatas ada dua hal yang penting dapat diambil yaitu : Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti "Gamongan" gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura. Fungsinya Menurut Upadeca, bila dihubungkan dengan "Pura-Pura" Sad Kahyangan di Bali, maka Pura Lempuyang Luhur adalah termasuk salah satu diantaranya disamping lima Pura lainnya. Pura Lempuyang Luhur adalah kedudukan Dewa Içwara dan terletak di ufuk Timur penjuru mata angin di Bali. Hal ini dapat dihubungkan dengan Dewa Nawa Sanga beserta tempatnya dan senjatanya masing-masing. Jadi jelaslah bahwa Pura Lempuyang Luhur adalah sebagai penjaga/pemelihara arah sebelah timur dengan dewa Içwara sebagai manefestasi Sang Hyang Widhi Wasa. Adapun dewa yang dipuja adalah Bethara Agnijaya (Hyang Gnijaya) sebagai manefestasinya Hyang Widhi, oleh karena Bhtara Agnijaya disejajarkan fungsi serta peranannya dengan Brahma, Wisnu, Indara dan Shambu maka dapatlah dimengerti bahwa Bhatara Agnijaya adalah identik dengan Içwara yaitu Dewa Asthadhipalaka yang berada di penjuru Timur. Nama Sang Hyang Agnijaya yaitu putra dari Sang Hyang Parameçwara (maksudnya sebagai manefestasi dari Hyang Widhi) juga ada disebutkan di dalam Lontar DewaPurana Bangsul. Pura-Pura yang berada di Bukit Gamongan yang ada hubungannya dengan Pura Lempuyang Luhur adalah Pura Desa Purahayu, Pura Telaga Mas dan Pura Pasar Agung. Pengemong Pengemong Pura Lempuyang Luhur adalah seluruh anggota"krama Desa" dari desa Purahayu, sedangkan penyungsungnya adalah segenap masyarakat Bali yang beragama Hindu dan Masyarakat Hindu di pulau Lombok termasuk umat hindu di seluruh Indonesia serta masyarakat Tionghoa di Bali. Piodalan Upacara Piodalan Pura Lempuyang Luhur jatuh pada hari kemis Umanis wuku dungulan yakni setiap enam bulan bali sekali (210 hari). Adapun urutan upacara piodalan pada Pura Lempuyang Luhur adalah sama dengan upacara pada Pura Sad Khayangan lainnya. Pemangku Pura Lempuyang luhur mempunyai pemangku tersendiri dan bersifat turun temurun dari keluarga pemangku menurut garis keturunan patrilinial dannyatanya. Suatu yang menarik dan merupakan keistimewaan adalah didalam Pura Lempuyang luhur terdapat serumpun bambu jenis kecil. Setelah selesai menghaturkan bhakti batang pohon bambu itu dipotong oleh pemangku untuk mendapatkan tirta (disebut tirtha pingit) bagi setiap orang yang pedek tangkil ngaturang bhakti kesana. Tirta tersebut juga berfungsi sebagai Tritha Pengenteg-enteg yakni tirtha yang diapaki untuk Ngenteg Linggih baik di Pura-Pura, mrajan ataupun sanggah. Tetapi anehnya tidak selalu didalam batang bambu tersebut diketemukan air.
free hit counter