Home » Pendidikan » Melatih Kecermatan dalam Permainan Dakon

Melatih Kecermatan dalam Permainan Dakon

Melatih ,Kecermatan, Permainan ,Dakon

Dua orang gadis cilik duduk berhadapan di sebuah pendopo rumah. Mereka menghadap sebuah papan berlubang 16 yang terisi biji-biji sawo. Rambut mereka dikepang, wajah mereka tersenyum sehingga gigi-gigi kecil mereka yang putih dan manis terlihat. Sesekali, tangan mereka terangkat bersama biji-biji sawo yang tergenggam. Kegembiraan tampak dari wajah gadis mungil yang kiranya sudah jelas sedang bermain dakon.

Ehm, dimana ya bisa menemukan pemandangan itu? Kiranya tak mudah, apalagi banyak gadis kecil sekarang yang lebih sibuk dengan boneka barbie kesayangannya. Tapi YogYES berhasil menemuinya di sebuah desa di wilayah Sewon, Bantul. Meski tidak berlangsung pendopo, kegembiraan yang terpancar tampak tak berkurang. Jika ingin melihat, silakan saja menuju perkampungan itu. Namun, tentu lebih asyik bila memilih memainkannya lagi.

Nah, biarkan YogYES mengingatkan lagi segala hal tentang permainan yang sering juga disebut congklak ini. Ada dua alat yang dibutuhkan untuk memainkan dakon, yaitu papan dakon yang memiliki 16 lubang, masing-masing 7 lubang di depan dan belakang dan dan 1 lubang di pojok kanan dan kiri serta biji sawo. Inti permainannya adalah mengumpulkan biji sawo di lubang pojok yang menjadi milik kita. Menang atau kalah ditentukan dari banyaknya biji yang berhasil dikumpulkan.

Sebelum bermain, peserta melakukan ping sut dulu untuk menentukan siapa yang bermain lebih dulu. Setelah itu, biji sawo yang berjumlah 98 disebar dalam setiap lubang di papan dakon, kecuali lubang di pojok kanan dan kiri. Jadi, setiap lubang berisi 7 biji sawo dan setiap peserta memiliki 49 biji sawo yang tersebar di 7 lubang yang ada di depannya. Permainan dimulai dengan mengambil seluruh biji di satu lubang dan menyebarnya satu per satu di lubang lain secara urut.

Untuk menyebar biji, ada beberapa aturan. Biji yang diambil dari satu lubang, dimasukkan ke lubang berikutnya satu per satu secara urut, termasuk ke lubang lawan. Jika melewati lubang pojok yang menjadi milik kita, maka satu biji yang kita genggam ditaruh di sana. Tapi, jika melewati lubang pojok milik lawan, kita tidak boleh menaruh biji sawo di dalamnya. Sebabnya, tentu saja agar jumlah biji sawo milik lawan tak bertambah banyak.

Mau menang? Ada beberapa triknya, semoga anda masih ingat. Misalnya, sebelum bermain, peserta memilih dahulu biji pada lubang mana yang akan disebar. Tujuannya agar biji terakhir dari kumpulan biji yang disebar bisa jatuh di lubang yang kosong. Kalau biji jatuh di lubang yang kosong, anda bisa mikul atau nembak. Dan, bila berhasil, akan semakin banyak biji yang terkumpul di lubang pojok milik anda, sehingga bisa memenangkan permainan.

Untuk bisa mikul atau nembak, ada syaratnya. Mikul atau memikul bisa dilakukan bila biji terakhir yang disebar jatuh ke lubang kosong milik lawan, jadi anda bisa mengambil biji yang berada di kanan dan kiri lubang kosong itu untuk ditaruh di lubang pojok milik anda. Sementara nembak atau menembak, bisa dilakukan bila biji terakhir yang disebar jatuh ke lubang kosong milik anda, sehingga bisa mengambil biji di lubang lawan yang ada di seberang lubang kosong milik anda.

Nah, bagaimana? Ingin memainkannya lagi. Anda bisa membeli alat-alat permainannya di beberapa toko di Yogyakarta. Beberapa toko menjual papan dakon yang berbahan plastik, dengan biji yang terbuat dari plastik pula. Tapi, ada juga toko yang menjual alat permainan dari bahan kayu, tapi dengan harga yang tentu lebih mahal. Banyak orang justru membeli peralatan dakon dari kayu hanya untuk hiasan.

Saat main, mungkin anda akan bisa mengingat kecurangan-kecurangan yang pernah anda lakukan. Misalnya, berusaha mengecoh pandangan lawan sehingga bisa menyembunyikan satu atau dua biji agar biji terakhir yang disebar jatuh di lubang kosong. Atau, kecurangan-kecurangan lain yang kadang membuat permainan ini menjadi lebih seru. Coba ingat-ingat lagi apa yang pernah anda lakukan saat bermain dakon, pasti anda akan tertawa sendiri mengenangnya.

Bagi anda yang belum pernah memainkannya, inilah saatnya mencoba. Banyak pakar yang percaya bahwa lewat permainan ini kemampuan berhitung dan kecermatan melihat dapat dilatih.

permainan, dakon, permainan dakon, Bermain dakon, sejarah permainan dakon, sejarah dakon, main dakon, cara bermain dakon, permainan tradisional indonesia, gambar permainan dakon

Baca juga:

  1. Cublak-Cublak Suweng Permainan Anak Nusantara
  2. Sejarah Permainan Basket
  3. Yang Diinginkan Pria dalam Hubungan2
  4. Menyegarkan Keintiman Rohani di Dalam Pernikahan
  5. Berapa Kali Pria Pikirkan Seks dalam Sehari
berita.balihita.com / Melatih Kecermatan dalam Permainan Dakon




Share |

Tags: , , , , , ,

Maret 26, 2010
By team berita

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87902 . 115. 33
Semakin dekatnya Hari Raya Nyepi, membuat aktifitas sentra pembuatan patung ogoh-ogoh di beberapa kawasan di Kota Denpasar, Bali, mulai ramai didatangi warga. Selain ingin membeli aneka kebutuhan perlengkapan pembuatan patung, kebanyakan warga juga sengaja datang untuk memesan patung ogoh-ogoh, untuk diarak pada malam hari menjelang Nyepi, 16 Maret mendatang. Tak hanya menjadi tradisi yang dilestarikan turun temurun, kreasi patung ogoh-ogoh bagi umat Hindu di Bali, merupakan salah satu prasyarat pensucian diri, dari unsur kejelekan, menjelang Nyepi. Simbol ogoh-ogoh sendiri digambarkan dengan sosok raksasa, atau Buta Kala, dengan penampakan wajah seram, sebagai simbol kejahatan, atau A Dharma. Sakralnya makna ogoh-ogoh sendiri membuat seluruh kepala keluarga di Bali, baik secara individu atau berkelompok membuat ogoh-ogoh, sebagai salah satu sarana pensucian. Pada malam Nyepi atau dikenal dengan malam pengrupukan nanti,ratusan ogoh-ogoh akan diarak keliling kampung, untuk mengusir roh jahat, dan menetralisir segala unsur negatif, agar tidak mengganggu saat warga melakukan tapa brata penyepian, pada pagi harinya. The approach of Nyepi, making it the statue of the activity center ogoh-ogoh in some areas in Denpasar, Bali, from bustling visited residents. In addition to the need to buy a variety of sculpture-making equipment, most residents also had come to order ogoh-ogoh statue, to be led on the night before Nyepi, March 16 next. Not only a tradition preserved from generation to generation, creation of a statue ogoh-ogoh for Hindus in Bali, is one of the prerequisites of intense spiritual renewal, of the elements of ugliness, before Nyepi. Ogoh-ogoh symbol itself is described by the giant figure, or Blind Kala, with the appearance of the face of horror, as a symbol of evil, or A Dharma. Sacred meaning ogoh-ogoh itself makes the whole family heads in Bali, either as individuals or in groups to make ogoh-ogoh, as one means of purification. On the night known as Nyepi or pengrupukan nights later, hundreds of ogoh-ogoh be paraded around the village, to ward off evil spirits, and neutralize all negative elements, so as not to disturb the residents do Penyepian initiation, in the morning.
free hit counter