Home » Gaya Hidup » Movie & Music » Konser Musik “Live Earth” di Bali Tampilkan SID, Slank, hingga God Bless

Konser Musik “Live Earth” di Bali Tampilkan SID, Slank, hingga God Bless

Konser, Musik ,Live, Earth, di, Bali, Tampilkan SID, Slank, hingga, God, Bless

Jakarta (Bali Post) -Sederet artis dan band dari Jakarta dan Bali akan tampil memeriahkan pergelaran musik kolosal bertajuk “Dow Live Earth Run for Water” di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Ungasan, Bali, 18 April mendatang.

Artis dan musisi papan atas ternama dari Indonesia di antaranya Slank, GIGI, God Bless, Glenn Fredly, Dwiki Dharmawan, Nugie, Dik Doank, Changcuters, SID (Superman Is Dead), Efek Rumah Kaca, Maliq dEssentials, Sherina, Vidi Aldiano, Bondan Prakoso & Fade2Black, Saykoji, Almost DVa, DJ Anton, Nadine Chandrawinata, Farhan, Shahnaz Haque, dll. Juga sederet artis/band dari mancanegara.

“Kegiatan ini sekaligus sebagai upaya mensosialisasikan air bersih dan penggalangan dana untuk membantu penyelesaian masalah krisis air,” ujar Rinny Noor, Ketua Penyelenggara dalam jumpa pers di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, baru-baru ini. Rinny menambahkan, untuk pertama kalinya Indonesia berpartisipasi pada kegiatan global yang akan diselenggarakan serentak di lebih dari 40 negara di seluruh dunia, seperti di New York, London, Sydney, Tokyo, Shanghai, Rio de Janeiro, Johnnesburg dan Hamburg.

Ihwal dipilihnya Pulau Bali sebagai tempat penyelenggaraan konser “Live Earth” ini, Rinny menegaskan, karena nama Bali lebih terkenal daripada Indonesia dan di sana, pernah digelar kongres mengenai global warning yang diikuti banyak negara di dunia. “Dampak positifnya terkait dengan pariwisata, dimana kita akan mempromosikan pariwisata yang bersih polusi di Bali. Dalam hal ini, kita dibantu penuh oleh Menbudpar, Menpora, Wanadri (klub pendaki gunung dari Bandung), Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Kemitraan Air Indonesia, The Climate Change Project Indonesia (TCP Indonesia) dan perorangan yang peduli pada krisis air dan lingkungan,” urai Rinny.

Nugie yang pernah merilis album “Bumi, Air, Tanah” mengaku mendukung projek ini. “Indonesia bisa dilirik negara lain, ini kan hebat. Dan para artis dan musisi bangga karena bisa memberikan kontribusi lewat musik. Masalah air adalah masalah kita semua. Persediaan air di negara kita ternyata terbesar di dunia, tapi kita tidak tahu dan membuang air seenaknya sendiri. Sanitasi masih buruk dan air tanah tercemar. Dalam hal ini, Indonesia punya peran lebih besar di dunia agar kita bisa memberikan gaya hidup yang lebih sehat. Ingatlah, tiga tahun ke depan, air akan menjadi komiditi mahal di dunia,” ujar Nugie yang dikenal sebagai penyanyi yang peduli pada masalah lingkungan.

Senada yang dilontarkan Kaka, vokalis utama Slank. “Ini misi yang mulia dan Slank sejak dulu selalu concern terhadap alam. Karena kita musisi, kita curahkan perhatian kita lewat lirik lagu dan musik. Masalah air adalah pekerjaan rumah (PR) kita semua dan tiada kehidupan tanpa air. Slank dan band serta solois lain akan siap tampil menyuarakan masalah manusia di bumi dan kita di Pulau Dewata selain main musik, juga akan mengadakan tur lingkungan ke desa-desa terdekat melihat sekeliling, memperhatikan air, sanitasi dan lingkungannya,” papar Kaka.

Sebelum gelaran musik, akan diadakan kegiatan jalan atau lari bersama sejauh 6 km dengan start dari Tirta Agung GWK dan finish di Water Village, GWK. Konser ini merupakan gagasan dari mantan Wapres AS yang ke-45 di masa pemerintahan Bill Clinton, yaitu Al Gore yang dikenal gencar bicara mengenai perubahan iklim. Bersama rekannya, produser Emmy Kevin Wall, Al Gore menggagas konser musik “Live Earth” atas dasar keyakinan bahwa panggung hiburan memiliki kekuatan untuk mendobrak jenjang sosial dan budaya yang dapat menggerakkan masyarakat di seluruh dunia untuk turut andil.

Sebagai sebuah perusahaan nirlaba, “Live Earth” menggunakan kekuatan dunia hiburan dengan menyatukan sebuah kegiatan, media dan pengalaman yang akan memacu gerakan global dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang sangat genting dewasa ini. (pik)

slank, konser musik slank, gambar slank, musik konser slank, music konser slank, live konser superman is dead, apa agama superman is dead, musik konser live slank, live musik slank, musik slank

Baca juga:

  1. Persiapan Konser Kotak Musik Gita Gutawa
  2. Makassar Dibanjiri Konser Artis
  3. Cari Slankers Baru, Slank Lelang Perlengkapan Bayi
  4. Nokia Optimistis Terhadap Pasar Musik Digital
  5. Wartawan Boikot Konser Sherina di Makassar
berita.balihita.com / Konser Musik “Live Earth” di Bali Tampilkan SID, Slank, hingga God Bless




Share |

Tags: , , , , , , , , , , ,

Pebruari 7, 2010
By berita terkini

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87899 . 109. 35
SARANA upacara atau bebantenan di Bali, sesungguhnya tidak hanya hiasan belaka. Tetapi, di dalamnya sarat makna simbolis. Pada umumnya, sarana upakara tersebut sebagai media bagi umat untuk menghubungkan diri dengan Sang Pencipta. Wakil Ketua Parisada Bali Drs. I Gusti Ngurah Sudiana menyambut baik keinginan umat untuk membuat museum banten. Tetapi, bentuk-bentuk bebantenan yang dipajang di museum itu mesti dilengkapi dengan penjelasan makna dan sekaligus bahan-bahannya. Dengan demikian, umat atau orang asing akan makin paham akan makna di balik bebantenan tersebut. Hal itu juga sekaligus menghilangkan istilah anak mula keto di kalangan umat. Misalnya canang, kata Ngurah Sudiana, sudah umum dipakai sebagai sarana persembahyangan, tetapi masih ada umat yang belum memahami maknanya. Canang, katanya, berasal dari bahasa Jawa Kuno. Awalnya berarti sirih, sehingga di Bali ada istilah pecanangan yang isinya sirih, gambir, pamor, tembakau, dan buah pinang. Di Bali canang disusun menjadi sebuah sarana persembahyangan yang bahan intinya yakni peporosan. Peporosan dibuat dari daun sirih, kapur, gambir dan buah pinang. Sirih pada zaman dulu diberikan sebagai penghormatan terhadap para tamu. Bahkan, sampai sekarang sirih memiliki arti penting dalam sebuah upacara di Bali dan juga masih disuguhkan kepada tamu, ujarnya. Bahan peporosan itu juga mengandung makna. Pamor atau kapur melambangkan Dewa Siwa, sirih melambangkan Dewa Wisnu, dan gambir melambangkan Dewa Brahma. Tidak itu saja, bahan lainnya seperti ceper yang berbentuk segi empat melambangkan catur purusa artha dan taledan atau tapak dara melambangkan keharmonisan serta uras sari lambang keheningan pikiran atau keteguhan pikiran. Jadi canang itu adalah wujud persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tri Murti. Umat memohon anugerah kepada Beliau agar mampu mencapai tujuan hidup yakni catur purusa artha dengan selamat, katanya. Sementara bunga lambang kesucian hati dan lambang kasih sayang. Bahkan, canang itu inti pokok semua banten yang lain, kata Sudiana. Demikian juga kuangen, katanya, sesungguhnya sebagai perlambang. Dalam Lontar Siwagama, kuangen disebut sebagai lambang Omkara (aksara suci Tuhan). Dikatakan, perlengkapan kuangen terdiri atas kojong dari daun pisang, plawa dan hiasan (pepayasan) bunga dan peporosan yang bernama silih asih. Peporosan silih asih itu terbuat dari dua lembar daun sirih berisi kapur (pamor). Di samping itu kuangen dilengkapi uang kepeng. Kojong itu disimbolkan angka tiga, potongan kojong di atas merupakan simbol ardha candra, uang kepeng sebagai simbol windu, bunga dan daun plawa sebagai lambang nada. Dalam Lontar Sri Jaya Kusunu, kuangen disebut sebagai lambang Omkara (aksara suci Tuhan). Sementara dalam Brihad Arinyaka Upanisad, kuangen lambang Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ujarnya sembari menyebut cara penggunaan kuangen yang benar adalah muka kuangen berhadap-hadapan dengan muka umat. Dikatakan, daksina juga mengandung makna. Daksina berasal dari kata Sansekerta. Daksina bisa berarti upah, daksina juga bisa bermakna selatan dan nama sebuah banten. Perlengkapan daksina yakni kelapa, telur bebek, biji-bijian. Dalam Lontar Siwagama, buah kelapa sebagai simbol ananda –alam semesta ciptaan Tuhan. Telur yang digunakan sebagai pelengkap daksina adalah telur itik, karena itik mempunyai sifat-sifat satwan. Berbeda dengan daksina caru yang dipersembahkan kepada para buthakala, yang digunakan bisa telur ayam. Sementara kelapa yang dipakai mesti dikupas dan dihaluskan. Selain kelapa, juga ada beras dan biji-bijian sebagai lambang kesuburan. Di situ juga ada hasil laut yang juga perlambang kesuburan. Daksina juga banyak macamnya. Di antaranya daksina alit bila jumlahnya masing-masing satu biji. Daksina pakakalan, isinya dua kali daksina alit. Daksina krepa, apabila isinya tiga kali lipat dari daksina alit. Daksina gede, apabila isinya empat kali lipat dari daksina alit. Daksina pemogpog atau galahan, apabila isinya lima kali lipat dari daksina alit. Sementara banten lainnya seperti peras, kata Sudiana, lambang Hyang Tri Guna Sakti, seperti yang termuat dalam Lontar Yadnya Prakerti. Dalam pemakaian sehari-hari peras dipergunakan pula sebagai lambang keberhasilan. Peras terbuat dari taledan, di atasnya diisi kulit peras dari janur atau daun kelapa yang sudah tua. Kemudian diisi dengan sedikit beras, base tampel, benang putih. Dalam upacara tertentu juga diisi uang kepeng dua buah. Selanjutnya di atasnya diisi dua buah tumpeng, lauk pauk, jajan, buah-buahan. Peras dilengkapi sampian peras dan canang genten. Pengambeyan, terdiri atas sebuah taledan sebagai alasnya, diisi dua buah tumpeng, tulung pengambeyan, tipat pengambeyan dan perlengkapan lainnya seperti lauk-pauk, jajan, buah-buahan, dan tebu. Banten pengambeyan menggunakan sampian tangga.
free hit counter