Home » Techno » Murni » ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa

ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa

ITS,, Rancang Rumah, Pracetak, Tahan, GempaSurabaya (ANTARA News) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah merancang rumah pracetak tahan gempa berkekuatan 6 SR hingga 7,5 SR dengan perkiraan biaya Rp50 juta hingga Rp60 juta.

“Itu harga rumah di wilayah gempa yang bertipe 36 dengan satu lantai, sedangkan harga untuk dua lantai Rp90 juta,” kata Kepala Laboratorium “Concrete and Building Material” Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS, Ir Tavio MS PhD, di Surabaya, Kamis.

Ia mengatakan rumah itu bisa dibuat dalam waktu 3-4 hari oleh 4-5 orang, karena ITS merancang dengan memperhatikan kuat, cepat dibangun, dan berbiaya murah.

“Untuk gempa berkekuatan 8 SR, rumah itu bisa runtuh, tapi nyawa penghuninya selamat karena tidak tertimpa atap rumah. Kalau mau tahan gempa 8 SR, maka harganya agak mahal,” katanya.

Menurut dia, rumah pracetak tahan gempa itu akan diproduksi massal, sehingga harga dan waktu pembangunan bisa lebih murah dan cepat.

Pembangunan rumah beton pracetak itu diawali dengan memasang pondasi telapak, sedangkan pondasi dipasang di atas tanah yang kering, karena tanah lunak hanya akan meningkatkan risiko goncangan gempa.

“Pemasangan kolom pracetak di atas pondasi, sedangkan sambungan antarkolom akan membedakan rumah tahan gempa dan rumah biasa,” katanya.

Untuk memperkuat rumah, sambungan menggunakan baja yang dicampur dengan “fly ash” (abu terbang) yang biasanya diperoleh dari limbah batubara.

Selain itu, beton yang dipakai juga beragregat ringan dengan berat beton kurang dari 1.800 kg per meter kubik.

“Tahap berikutnya adalah pembangunan atap. Untuk wilayah rawan gempa, atap rumah harus terbuat dari bahan yang ringan. ITS sudah merancang atap rumah berbahan zincalume yang merupakan campuran antara besi dan aluminium,” katanya.

Dalam simulasi, katanya, sudah diuji dengan atap berbahan zincalume, ternyata sekuat besi tapi ringan karena terbuat dari aluminium.

“Yang lebih penting lagi, rumah itu tidak panas,” katanya.(Ant/R009)

bangunan terbuat dari beton pracetak, Penemu rumah anti gempa, rumah pracetak, rumah pracetak 25 juta, rumah terbuat dari aluminuim, share pondasi pracetak, rumah murah anti gempa, rancangrumah, rancang rumah tahan gempa, rancang rumah murah

Baca juga:

  1. ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa
  2. Pemerintah Revisi Standar Gedung Tahan Gempa
  3. Gempa Panikkan Warga
  4. Mengapa Gempa Haiti Menelan Banyak Korban?
  5. Gempa 5,2 SR Goyang Mentawai
berita.balihita.com / ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa




Share |

Tags: , , , ,

Pebruari 20, 2010
By berita terkini

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87896 . 101. 34
Sekitar 3.500 ogoh-ogoh, yakni boneka berukuran besar menyerupai raksasa dengan wajah menyeramkan, akan memadati dan berlalu-lalang di hampir semua ruas jalan umum di Pulau Dewata, menjelang Hari Raya Nyepi. "Raksasa" yang umumnya terbuat dari bahan rangkaian bambu, kayu dan dibalut kertas aneka warna itu, akan tampil "menari" di jalanan umum sejak Senin (15/3) petang hingga larut tengah malam, yang oleh masyarakat Hindu disebut Malam Pengrupukan, menjelang Nyepi yang jatuh pada Selasa (16/3). Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar di Denpasar, Selasa (9/3) mengatakan, dari sekitar tiga ribu lebih ogoh ogoh yang akan "pentas" di jalanan Bali, terbesar berada di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Sehubungan dengan itu, operasi pengamanan jalannya pengerupukan itu lebih ditekankan pada dua wilayah tersebut. Namun demikian, petugas di sejumlah kabupaten lain juga tetap disiagakan dalam jumlah yang cukup, baik pada Malam Pengerupukan maupun sepanjang Hari Suci Nyepi yang berlangsung Selasa (16/3) mendatang. Khusus saat Nyepi, petugas yang tidak lagi turun ke jalan, melainkan akan disiagakan secara "on call" di setiap markas Polres/Poltabes se Bali. "Ini artinya, petugas yang siaga setiap saat dapat dikerahkan ke tempat kejadian bila tiba-tiba muncul peristiwa yang tidak diinginkan saat umat melaksanakan 'berata penyepian'," ujarnya. Mengenai pawai ogoh-ogoh, kata Sugianyar, bisa dibayangkan bahwa patung "raksasa" yang umumnya akan turun secara serempak ke jalan-jalan raya tersebut, dengan sendirinya akan membuat jalanan menjadi "lautan" boneka. Sehubungan dengan itu, Kabid Humas mengimbau para pemakai jalan raya untuk dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjebak kemacetan akibat "demo" ogoh-ogoh yang berlangsung selama lebih dari enam jam itu. Menurut dia, sebaiknya para pengemudi berbagai kendaraan bermotor, tidak turun ke jalan raya pada jam-jam berlangsungnya malam Pengerupukan, sehari sebelum tibanya Hari Suci Nyepi yang jatuh 16 Maret mendatang.
free hit counter