Kesehatan

Bayi Berekor Lahir di ChinaBayi Berekor Lahir di China

Maret 9, 2010
By team berita
Bayi Berekor Lahir di ChinaBayi Berekor Lahir di China

Peristiwa kelahiran unik terjadi di China tepatnya di Kota Lixing, bagian selatan Provinsi Anhui. Seorang bayi perempuan, bernama Hong Hong, memiliki ekor. Empat bulan kemudian, ekor di bagian belakang tubuh Hong Hong berukuran dua kali lipat dari ukuran semula. Dokter lalu mengoperasi, melepas ekor dari tubuh bocah ini. Ayah Hong Hong, Hou mengaku syok ketika melihat...
Read more »

Tags: , , , ,
Posted in Kesehatan | Komentar Dimatikan

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87876 . 31. 35
PRO dan kontra mengenai obsesi Gubernur Bali Made Mangku Pastika memiliki hotel di kawasan elite terus bergulir. Kalangan pengamat ekonomi dan praktisi pariwisata memandang daerah baru perlu dibangun pariwisatanya. Pemerintah bisa menggerakkan investasi daerah baru tersebut dengan membentuk konsorsium swasta lokal. Selain untuk memeratakan pembangunan di Ball Selatan, Utara dan Bali Timur, juga untuk mengimbangi serbuan investor luar. Demikian pendapat pengamat ekonomi Dr. Kembar Sri Budhi, praktisi pariwisata I Gusti Bagus Yudhara, MBA., Prof. Dr. Gde Sri Darma dan Prof. Dr. I Nyoman Budiana. Sri Budhi berpendapat, kalau ada kelebihan dana dari efisiensi pengelolaan keuangan daerah, bisa dimanfaatkan sebagai dana stimulus untuk membangun daerah tertinggal di Bali seperti Karangasem dan Buleleng. Cukup banyak aset di daerah itu bisa dibangkitkan dan dibangun fasilitas pariwisata. ''Kenapa stimulus dana itu tak diarahkan untuk membangun infrastruktur dan fasilitas di kawasan wisata baru, stop fasilitas pariwisata di Badung dan Denpasar sudah jenuh,'' kata mantan Dekan FE Unud ini, Selasa (23/2) kemarin. Dia memandang distribusi/pemerataan pembanguann Bali jauh lebih penting ketimbang membangun atau memiliki hotel di daerah yang sudah jenuh. Kembar Sri Budhi berpendapat, pemerintah sangat perlu mendorong pembangunan fasilitas pariwisata di Buleleng dan Karangasem. Pemerintah cukup sebagai fasilitator untuk menggerakkan potensi di sana. Pemerintah bisa membentuk konsorsium untuk mengajak pihak swasta merangsang pertumbuhan daerah baru. ''Jika swasta sudah ada di sana, kita kumpulkan mereka, kemudian pemerintah mendorong untuk menggerakkan potensi ekonomi setempat. Kalau tidak pemerintah pionernya di sana, siapa lagi yang mau memelopori sebagai 'perabas hutan','' katanya. Sementara itu, praktisi pariwisata I Gusti Bagus Yudhara juga sependapat, daerah baru perlu dibangun pariwisatanya karena potensinya luar biasa. Kelemahan daerah baru itu hanya infrastruktur belum memadai. Untuk itu peran pemerintah bersama swasta sangat diharapkan membangun daerah baru. Caranya membentuk sebuah konsorsium dari kalangan swasta dibantu oleh pemerintah. Perhatian pemerintah di daerah baru itu penting, jangan sampai mereka merasa dianaktirikan. ''Janganlah pemerintah ikut 'bermain' di Badung dan Denpasar yang sudah maju, wisatawan yang melancong ke luar Badung dan Denpasar bisa boikot,'' katanya. Kabag Humas Pemprov Bali Drs. Ketut Teneng, M.Si. menyatakan ide Gubernur untuk memiliki hotel berangkat dari keterbatasan sumber pendapatan daerah serta pemanfaatan aset daerah. ''Apalagi yang mesti dikerjakan untuk menggali sumber pendapatan baru,'' jelas Teneng. Jika pendapatan daerah makin besar, cakupan pelayanan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan melalui pendidikan dan kesehatan menjadi lebih luas. Prof. Dr. Gde Sri Darma menegaskan, pembentukan konsorsium merupakan salah satu jalan untuk memecah kebuntuan investasi ke Bali Utara dan Timur. Sri Darma dan Budiana menegaskan, pembentukan konsorsium itu juga wajib diposisikan sebagai dinamisator dan katalisator untuk mempercepat pemerataan ''kue'' kesejahteraan bagi masyarakat Bali secara menyeluruh. Dengan kata lain, bidang usaha yang dibangun oleh pemerintah daerah harus diprioritaskan untuk mengembangkan daerah-daerah di Bali yang selama ini berkategori tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Bali. Sebagai contoh, pembangunan hotel tidak harus numplek di Kabupaten Badung di mana persaingan untuk menangguk berkah pariwisata di sana sudah sangat ketat. Selain itu, bidang usaha yang dikembangkan tidak mutlak harus terpusat di bidang pariwisata semata, tetapi juga menyasar bidang usaha lainnya sesuai potensi dan karateristik yang dimiliki masing-masing daerah. ''Membangun dan menyejahterakan Bali tidak mesti lewat pariwisata semata. Masih banyak peluang di bidang lain yang bisa dikembangkan dan dioptimalkan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,'' tegas Budiana. Terkait obsesi Gubernur ingin membangun hotel, Sri Darma dan Budiana mengaku tidak mau larut dalam reaksi pro dan kontra tersebut. Namun, keduanya mengingatkan apakah obsesi itu sudah disertai dengan kajian yang benar-benar matang, termasuk dampak positif dan negatif apa yang akan menyertainya jika obsesi itu benar-benar direalisasikan. Termasuk, mempertimbangkan dan memprediksikan prospek ke depan apakah bidang usaha yang dikembangkan oleh Pemprov Bali itu benar-benar strategis untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali. ''Jika operasional usaha itu justru memoroti dan menjadi beban anggaran daerah, lebih baik obsesi itu diurungkan saja. Yang terpenting lagi, obsesi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali itu tidak boleh dilakukan secara membabi buta dengan mengabaikan kearifan-kearifan lokal, merusak alam dan lingkungan, budaya dan tatanan masyarakat Bali lainnya,'' kata Sri Darma mengingatkan.
free hit counter