Home » Internasional » Boediono: Ini Risiko Hidup

Boediono: Ini Risiko Hidup

Boediono, Ini, Risiko, Hidup

Boediono, mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini Wakil Presiden, mengatakan, kasus Bank Century yang terkait dengan dirinya adalah risiko hidup. ”Cobaan itu bagian dari hidup. Hidup itu mengandung risiko. Kalau hidup tidak mau risiko, ya tidak usah hidup,” katanya.

Hal itu diucapkan Boediono di sela-sela peringatan hari ulang tahunnya yang ke-67 di Gedung II Istana Wapres, Jakarta, Kamis (25/2/2010).

Boediono merasa dirinya sudah berada di ujung yang cukup jauh dari perjalanan hidupnya. Penambahan usia dirasakan juga sebagai pengurangan usia kehidupannya. ”Jika Tuhan mengizinkan, sisa umur saya ini akan saya dedikasikan kepada bangsa dan negara ini. Itulah cita-cita saya,” kata Boediono.

Boediono menambahkan, pada usianya yang ke-67 ini, dirinya tak punya ambisi apa-apa lagi, kecuali mengabdi kepada bangsa dan negara.

Syukuran sederhana ulang tahun Boediono dilakukan di sela-sela tugasnya di Istana Wapres. Acara diawali pemotongan nasi tumpeng di hadapan karyawan dan staf Istana Wapres, selanjutnya dilakukan santap siang bersama.

Hari itu, mengawali sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan doa ulang tahun untuk Boediono. Presiden mendoakan agar Boediono mampu mengatasi segala ujian dan cobaan dengan tegar dan sabar. Presiden mengajak para menteri dan pejabat yang hadir untuk mendoakan Boediono agar selalu dalam lindungan Allah SWT. (FER/WHY/ANA/NWO/DAY/HAR)

Berita selengkapnya bisa dibaca di http://berita.balihita.com/ atau klik berita terkait

risiko hidup

Baca juga:

  1. Amien Rais Imbau Presiden Cari Pengganti Boediono
  2. Boediono Bukan Superman yang Tak Terganggu Berita Century
  3. Sibuk, Boediono Tunda Nonton “Eat, Pray, Love”
  4. Golkar Diminta Tak Salahkan Boediono-Sri Mulyani
  5. Hidup ini Terlalu Indah untuk tidak di Lewati
berita.balihita.com / Boediono: Ini Risiko Hidup




Share |

Tags: , , ,

Pebruari 27, 2010
By berita terkini

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87871 . 9. 32
TUBAN-Pemerintah Kabupaten Tuban dinilai kurang peduli terhadap seni dan kebudayaan. Anggaran yang dialokasikan sangat minim dan distribusinya pun tidak jelas, karena yang mendapat dana pembinaan ternyata bukan pelaku-pelaku seni. “Anggaran yang disediakan hanya Rp 2 juta per kelompok. Itu pun kalau mengajukan,” kata M. Rodhi (36), salah seorang pelaku seni tradisional, Rabu (3/2). Menurut Rodhi, seharusnya anggaran untuk pengembangan seni dan budaya dikelola langsung oleh pelaku seni, bukan hanya ditujukan untuk penyelenggaraan kegiatan seni. Sebab, menurut Rodhi, berkembang atau tidaknya seni dan kebudayaan bukan tergantung pada banyaknya kegiatan seni, tapi yang terpenting adalah pembinaan SDM-nya. Lebih memprihatinkan lagi, lanjut Rodhi, anggaran tersebut kebanyakan tidak dinikmati langsung oleh pelaku-pelaku seni tradisional. Padahal Pemkab menarik retribusi dari pelaku seni tradisional tersebut  antara Rp 10-15 ribu per pentas per orang. Keadaan tersebut semakin diperburuk dengan makin tergesernya kesenian tradisional. “Sekarang tayub, misalnya, sudah mulai tidak diminati masyarakat karena selain biaya pentasnya lebih mahal, masyarakat lebih suka menyewa grup musik dangdut. Padahal pendapatan seniman tayub, dari ledek hingga niyogo atau penabuh gamelannya ya ketika pentas itu,” kata Rodhi. Sementara itu Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata, Mustarikhah, mengatakan, pihaknya sudah melakukan pembinaan terhadap pelaku-pelaku seni tradisisonal. Ia mengakui kecilnya anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut. Namun, tambahnya, hal itu seharusnya tidak menjadi kendala bagi pelaku-pelaku seni untuk terus beraktivitas melestarikan dan mengembangkan seni dan kebudayaan tradisional.
free hit counter