Home » Daerah » Bangun Tiga Rumah Adat

Bangun Tiga Rumah Adat

Melayu, Dayak dan Tionghoa

MEMPAWAH. Pemkab akan membangun rumah adat Melayu, Tionghoa dan Dayak. Pendirian bangunan merupakan upaya pemerintah daerah untuk melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai budaya masyarakat adat.

“Pada pertemuan antara Bupati Ria Norsan dan etnik Tionghoa di Kecamatan Sungai Pinyuh beberapa waktu lalu, Bupati menyampaikan wacananya untuk membangun rumah adat. Saya sangat antusias dan memberikan apresiasi besar terhadap rencana tersebut,” kata Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kabupaten Pontianak, Drs Suharjo Lie di ruang kerjanya, Rabu (3/2).

Lokasi rumah adat akan disesuaikan dengan keberadaan masyarakat. Misalnya, untuk rumah adat Melayu akan dibangun di Mempawah, rumah adat Dayak di Kecamatan Anjungan dan Tionghoa di Kecamatan Sungai Pinyuh.

“Dipilihnya Sungai Pinyuh sebagai daerah pembangunan rumah adat Tionghoa, mengingat Kecamatan Sungai Pinyuh merupakan salah satu wilayah pengembangan adat budaya Tionghoa di Kabupaten Pontianak. Lokasi yang ditentukan itu sangat strategis dan tepat,” pendapat pria yang juga Kepala Dinas (Kadis) Perhubungan Kabupaten Pontianak ini.

Namun, imbuh dia, dalam wacana pembangunannya tersebut, Pemkab berharap masyarakat mempersiapkan lahan lokasi rumah adat. Artinya, masyarakat mempersiapkan tanah bangunan yang akan dibangun Pemkab.  “MABT Kabupaten Pontianak sangat mendukung dan memberikan apresiasi positif terkait pengembangan budaya tersebut. Untuk itu secepatnya kami melakukan pertemuan bersama pengurus MABT, guna menindaklanjuti menyediakan lahan dimaksud. Hasil musyarawarah dan rapat nantinya yang menentukan lokasi pembangunan rumah adat Tionghoa di Sungai Pinyuh,” bebernya.

Terkait bentuk dan gambaran realisasi rumah adat, Suharjo belum dapat memastikan. Namun, akan disesuaikan dengan pola arsitektur bangunan Tionghoa yang mencerminkan nilai-nilai budaya.

“Realisasi rumah adat itu lebih mencerminkan keunikan dan menonjolkan budaya Tionghoa. Tujuannya untuk memberikan pemahaman tentang kultur dan budaya. Dengan begitu, pembangunan rumah adat tersebut akan meningkatkan kemajemukan dan khazanah budaya masyarakat Tionghoa,” tuturnya.

Dia memastikan, rumah adat tersebut tak hanya akan dipergunakan etnik Tionghoa. Rumah adapt tersebut dapat dipergunakan etnik apa saja untuk melakukan kegiatan, seperti pertemuan, pagelaran seni tari dan musik. (hry)

rumah adat tionghoa, rumah adat cina, rumah adat pontianak, rumah adat tionghua, kebudayaan adat tionghoa, apresiasi rumah adat, Sejarah Sungai Pinyuh, rumah adat cina di indonesia, rumah adat daerah BALI, berita terbaru tentang budaya rumah adat

Baca juga:

  1. Kumpulan Rumah Adat Indonesia
  2. Warga Tionghoa Jangan Cemas
  3. Peranan Desa Adat dalam Menunjang Pariwisata Budaya
  4. Rumah Janda Ini Terbakar Disambar Petir
  5. Banjir Lumpur Terjang Rumah Warga
berita.balihita.com / Bangun Tiga Rumah Adat




Share |

Tags: , , , , ,

Pebruari 4, 2010
By team berita

Comments are closed.

Berita Regional dan Pariwisata

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

By Global

JAKARTA - Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali. Rencananya Art Summit Indonesia 2010...
Read more »

Objek Wisata Alas Kedaton

By Global

Libur lebaran sejumlah objek wisata ramai dikunjungi pengunjung seperti objek wisata alas kedaton di Tabanan. Objek wisata yang terkenal dengan keindahan alam serta ratusan...
Read more »

WithBerita

BeritaTerkini V
87869 . 0. 31
Sekitar 30 ekspresi tokoh-tokoh Bali menjadi perhatian pengunjung Komaneka Fine Art Gallery, di Monkey Forest, Ubud, Gianyar, Selasa (2/3) malam lalu. Para tokoh yang tak asing lagi di Bali ini menjadi objek bidikan lensa sembilan fotografer international yang tergabung dalam XXV. Pameran foto sejumlah tokoh Bali ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di Bali. Sekitar 20 karya foto dipajangkan di dinding-dinding galeri dengan nuansa yang cukup menarik. ''Seluruh kegiatan pameran yang dibuka 2 Maret dan berakhir 12 Maret ini diberikan tema Bali Potraits,'' jelas pemilik Komaneka Art Galery, Komang W. Suteja. Tokoh Bali yang menjadi objek dalam pameran ini berasal dari tokoh budaya, tokoh adat, tokoh seni lukis, penulis, tokoh pers, dan beberapa tokoh Bali lainnya. Dipilihnya tokoh Bali menjadi objek dalam karyanya ini, menurut Indra Leonardi, salah satu fotografer XXV, hal itu semata-mata merupakan ide bersama anggota XXV yang saat ini sedang melakukan konferensi tahunan di Bali. Tema pameran itu mengalir begitu saja ketika para fotografer XXV di antaranya, Marcus Bell (Australia), Petter Dyer (England), Hansong Fong (USA), Indra Leonardi (Indonesia), Curt Lihlecolt (USA), Susan Michel (USA), Ralp Romoguera (USA), Paul Skipwarth (USA), dan Vicki Toufer (USA) melihat keindahan Pulau Bali. Bali di mata dunia merupakan pulau wisata yang menjadi pusat budaya yang disukai oleh para wisatawan.
free hit counter